3 Hal Yang Dapat Kita Pelajari Dari Seorang Steve Job (Bagian III)

 

Ketiga: Kematian

 

Ketika berusia 17 tahun, Steve Job pernah membaca sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa jika anda hidup setiap hari seperti hari terakhir anda, suatu ketika itu akan benar-benar terjadi.

 

Tulisan itu membuatnya terkesan, dan, sejak itu, untuk waktu selama 33 tahun, setiap pagi, Steve Job selalu melihat dirinya di depan cermin dan bertanya bahwa jika ini adalah hari terakhir saya hidup, apa yang akan saya lakukan? Dan jika jawabannya "tidak" untuk beberapa hari secara berturut-turut, dia menyadari bahwa dia harus berubah.

 

Mengingat bahwa semua akan mati, adalah hal paling penting yang didapatinya untuk menentukan pilihan dalam hidupnya. "Karena segala sesuatu, semua pengharapan, semua kebanggaan, ataupun hal yang memalukan karena kegagalan, semuanya akan tidak berarti dengan kematian. Mengingat bahwa kita akan mengalami kematian, adalah cara terbaik yang saya tau, untuk menghindari perangkap pemikiran akan kehilangan sesuatu. Kita lahir tanpa apa-apa, jadi tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati kita" begitu kata Steve Job.

 

Suatu ketika Steve Job melakukan check-up, dan dia didiagnosa mengalami penyakit kanker. Ditemukan tumor di dalam pankreasnya.

 

Dokter mengatakan bahwa kanker yang dideritanya adalah jenis yang tidak dapat disembuhkan. Dan waktu bertahan hidup adalah tidak lebih dari 3 sampai 6 bulan.

 

Sang dokter menyarankan untuk pulang dan menyiapkan segala sesuatunya, yaitu mempersiapkan diri menghadapi kematian. Memberitahukan kepada anggota keluarga. Dan itu berarti selamat tinggal.

 

Suatu malam dokter memasukkan endoskopi melalui tenggorokannya, terus ke dalam perut, dan ke dalam intestannya, dan menusukkan jarum ke pankreasnya dan mengambil beberapa sel dari tumor. Dia tidak sadar. Tapi menurut cerita istrinya, ketika dokter melihat kankernya dokternya menangis, karena mendapati jenis kanker yang sangat jarang dan tak dapat disembuhkan. Namun pada akhirnya Steve Job mengalami pembedahan, dan hasilnya, ternyata dia bisa sehat kembali.

 

Itulah saat Steve Job sangat dekat dengan kematian. Setelah melewati masa itu, Steve Job akhirnya berpendapat bahwa kematian adalah sesuatu yang harus kita alami tapi juga adalah konsep intelektual. Karena setiap orang tidak ingin mati, bahkan orang yang ingin masuk sorga pun tidak ingin mati untuk sampai kesana.

 

Dan kematian adalah tujuan yang harus kita alami, tidak ada yang tidak akan mengalaminya. Dan itu harus.

 

Jadi waktu kita dibatasi, jangan sia-siakan. Jangan hidup dengan dogma orang lain. Jangan hidup dengan cara yang dipikirkan orang lain. Jangan biarkan pendapat orang lain mengganggu anda. Ikuti kata hati anda, karena hanya anda sendiri yang tahu anda akan menjadi apa.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Releated

5G Dan Kegunaannya Di Masa Depan

  Jika sekarang anda merasa puas dengan kemampuan ponsel pintar anda yang dapat mengambil foto, dapat melakukan pencarian,  atau berselancar di internet, atau bahkan memainkan musik untuk anda, maka sebentar lagi anda akan merasa bahwa ponsel pintar tersebut sudah tidak bisa lagi memenuhi ekspektasi anda.   Teknologi memang menjanjikan kehidupan yang lebih baik, termasuk perkembangan […]

3 Hal Yang Dapat Kita Pelajari Dari Seorang Steve Job (Bagian II)

  Kedua: Cinta dan Kehilangan   Steve Job memulai Apple dari garasi rumah orang tuanya, ketika usianya masih menginjak 20 tahun.   Dengan kerja keras, dalam kurun waktu 10 tahun, perusahaan yang dimulai dengan 2 orang ini, dapat dikembangkan Steve Job menjadi perusahaan yang bernilai 2 milyar dollar dengan sekitar 400 karyawan. Mereka berhasil meluncurkan […]