Dabuan Bodil, adalah sebuah tempat pemandian alam di Kolang, Tapanuli Tengah. Dulu, tempat ini adalah sebuah hutan yang tidak terlalu lebat, atau lebih tepatnya sebuah ladang yang tidak ditumbuhi oleh jenis tanaman apapun yang dapat menghasilkan uang, karena dasar tanahnya adalah bebatuan.

Namun ketika penulis datang ke tempat ini, penulis yakin bahwa potensi tempat ini sebenarnya lebih dari sekedar tumbuhan yang dapat menghasilkan uang. Banyak yang bisa diolah dari tempat ini. Terlebih ketika penulis melihat bahwa pada hari libur tempat ini telah dikunjungi oleh beberapa orang hanya untuk sekedar mandi atau bercengkerama antar teman.




Banyak tempat wisata yang telah penulis kunjungi di perantauan. Dan tempat tersebut tidak lebih indah dari Dabuan Bodil. Juga tidak se-alami Dabuan Bodil. Sungai yang mengalir begitu bening, segar karena masih berada diantara hutan yang masih terpelihara dengan baik. Airnya yang sejuk karena beralaskan bebatuan, ditambah udara yang masih sejuk membuat penulis punya keinginan mengelola tempat ini. Kebetulan memang tempat ini adalah peninggalan orang tua, yang katanya tidak boleh dijual.

Sedikit modal yang penulis punya ketika kembali dari perantauan, penulis gunakan untuk membabat semak belukar yang menyelemuti tempat ini. Sebuah tangga dari semen menjadi tanda yang masih tersisa dari tempat ini ketika penulis memulainya. Dulu, untuk turun ke tepian sungai, pengunjung harus merangkak diantara semak untuk dapat mencapai sisi sungai. Dulu ada rasa bangga memulainya karena pada saat itu, beragam pengunjung datang ke tempat ini, mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa bahkan nenek renta yang ingin merasakan sejuknya air Dabuan Bodil.




Itu dulu. Sekarang pengunjung Dabuan Bodil tidak lagi se-ramai dulu ketika penulis baru membukanya. Ketiadaan biaya untuk memelihara tempat ini membuat penulis tidak berdaya untuk membangkitkan tempat ini kembali. Penulis pernah berharap tempat ini akan mendapat perhatian dari Pemerintah Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah untuk dijadikan sebagai sebuah tempat tujuan wisata di Tapteng. Harapan itu kandas, bahkan ketika penulis dulu mencegat Bupati Bonaran Situmeang untuk singgah di tempat ini ketika sang Bupati hendak memantau pelaksanaan gotong royong di Desa Sipakpahi. Sang Bupati berjanji untuk datang ke tempat ini, namun ternyata janji itu tidak pernah tertepati karena sang Bupati sudah keburu lengser.

Penulis gagal mewujudkan tempat ini menjadi sebuah tempat wisata, karena sekarang tempat ini sudah mulai kembali ditumbuhi semak dan tidak terawat. Namun penulis tidak ingin nama Dabuan Bodil hilang begitu saja. Terlalu banyak pengorbanan yang penulis alami ketika memulainya dan mencoba mempertahankannya. Penulis ingin Dabuan Bodil dikenang orang, kalau tidak karena rasa bangga akan keberadaan sebuah tempat wisata, setidaknya penulis ingin tetap berbagi melalui sebuah website yang bernama dabuanbodil.com, sebuah situs yang penulis gunakan untuk berbagi sedikit pengetahuan yang penulis ketahui, ataupun pemikiran (dalam kolom opini), yang mungkin bisa saja berguna bagi para pembaca, atau kalau tidak, mungkin itu hanyalah sebuah keluh kesah seorang gagal yang mencoba ingin tetap berguna, karena penulis punya keyakinan bahwa apapun yang kita lakukan tidak pernah akan sia-sia.




 

Salam,

 

Murhot Hutagalung