Swift Code     ---    Post Office in Indonesia    ---    Pawnshop in Indonesia    ---    Indonesia Post Codes    ---    english.dabuanbodil.com    ---    Address in Indonesia

Jokowi, Bakhtiar Sibarani, Dan Tapanuli Tengah

 

Minggu, 17 Maret 2019 bukanlah hari yang istimewa. Tidak ada hal khusus hingga membuat tanggal tersebut menjadi begitu spesial.

 

Namun tidak demikian halnya bagi Tapanuli Tengah. Pada tanggal inilah kali ketiga Presiden Joko Widodo menginjakkan kakinya di Kabupaten Tapanuli Tengah. Ini adalah sejarah bagi Tapanuli Tengah, karena dari jumlah 514 kabupaten dan kota di Indonesia, Tapanuli Tengah mendapatkan kunjungan seorang Presiden sebanyak 3 kali dalam kurun waktu 5 tahun pemerintahan Joko Widodo.

 

Dan bagi penulis, tanggal tersebut boleh dikatakan agak istimewa, karena pada saat itulah penulis dapat melihat Presiden RI Joko Widodo dari jarak yang sangat dekat, bahkan dapat bersalaman dengannya. Momen dimana penulis dapat mengerti Pak Jokowi dengan pemahaman yang lebih baik.

 

Jokowi, sosok yang sangat sederhana, yang kesukaannya selalu dekat dengan rakyat yang dipimpinnya. Bagaimana tidak, sepertinya Presiden RI yang satu ini, sangat ingin dan sangat sering berada di keramaian masyarakat walaupun harus kadang terjepit oleh desakan massa yang mengerumuninya untuk sekedar bersalaman.

 

Buat sebagian orang, itu tidak penting, dan tidak ada artinya. Namun buat sebagian yang lain, melihat dari dekat Presiden Joko Widodo dan dapat bersalaman dengannya adalah pengalaman yang tak akan terlupakan, apalagi jika momen itu dapat memberi semangat dan pemahaman yang lebih baik akan apa yang di perjuangkan oleh seorang Presiden.

 

***

 

Antusiasme masyarakat Tapanuli Tengah dapat terlihat dari antrian panjang menuju gerbang GOR Pandan. Satu hal yang membuat masyarakat agak sedikit kecewa adalah ketika untuk memasuki arena tersebut ternyata harus menggunakan ID Card dan harus melewati Detektor Logam yang ditempatkan di Gerbang GOR Pandan sebagai bagian dari prosedur standard pengamanan Presiden.

 

Pun bukan berarti masyarakat lantas pulang karenanya. Massa justru dengan sabar menunggu di luar pagar mulai sekitar jam 07:00 pagi, hingga kedatangan Jokowi mendekati pukul setengah 2.

 

Sebagian orang dapat memasuki Gedung Olah Raga Pandan, termasuk penulis, yang dengan rela menunggu kedatangan Presiden Jokowi dari pagi hari.  Demikian juga dengan kerumunan massa telah memenuhi GOR tersebut yang tampak dengan sabar menunggu kedatangan Presiden Joko Widodo, yang mungkin hanya ingin melihat langsung sang Presiden dari jarak dekat. Dan kalau beruntung dapat bersalaman dengannya.

 

***
 

Tak terkecuali dengan Bupati Tapanuli Tengah, Bakhtiar Ahmad Sibarani, yang dengan semangat langsung memimpin yel-yel yang akan digunakan untuk menyambut Jokowi di Gelanggang Olah Raga (GOR) Pandan. Bukan tidak mungkin baginya untuk menyerahkan tugas tersebut terhadap pemandu acara. Namun hal itu tidak dilakukannya. Bahkan ketika Bakhtiar Sibarani berpidato menyambut kehadiran Jokowi, sang Bupati sepertinya sudah agak parau, walaupun ketegasan dan semangat masih ada dalam penyampaian pidato sambutan tersebut.

 

***
 

Giliran Presiden Jokowi yang naik ke atas panggung. Massa yang hadir terus meneriakkan yel-yel yang diajarkan sang Bupati. "Jokowi - Amin, Jokowi - Amin, Jokowi - Amin ... Jokowi - Amin, Jokowi - Amin, Jokowi -Amin" Dilanjutkan dengan teriakan "Jokowi!" oleh sang Bupati, dan kemudian dijawab massa dengan teriakan "Menang!" sebanyak 3 kali, semakin menambah antusiasme massa yang hadir, seperti anda bisa saksikan di link youtube ini.

 

Dalam pidatonya, Presiden Jokowi langsung menceritakan permintaan Bakhtiar Sibarani bahwa Bandara Pinang Sori butuh penambahan runway untuk dapat didarati pesawat berbadan lebar. Sang Presiden mengatakan akan menambah landasan pacu sepanjang 400 meter. Komitmen seperti inilah yang membuat hari itu menjadi spesial bagi Tapanuli Tengah, karena pada momen kedatangan Presiden seperti inilah seorang kepala daerah secara spontan dapat menyampaikan permintaannya. Sepertinya Presiden menyetujui permintaan sang Bupati dengan menugaskan menterinya untuk menindak lanjuti permintaan tersebut.

 

***

 

Dan, bagi penulis, momen tersebut menjadi begitu spesial. Melihat Presiden dari dekat, dan bahkan bersalaman dengannya, mungkin hanya inilah kesempatan yang penulis punya. Mungkin hal itu tidak akan terjadi lagi. Kesempatan tidak pernah datang 2 kali. Walau sebenarnya penulis  masih memiliki keinginan untuk dapat menyalaminya lagi. Tapi mungkinkah? Buat orang awam seperti saya, kecil kemungkinan hal itu terulang kembali, kecuali jika penulis punya prestasi yang sangat luar biasa, dan kemudian mendapat undangan ke Istana Negara. (Hehehe, mimpi kali ye...)

 

Tidak ada yang mustahil. Saya masih berharap. Siapa tau.

 

Namun, berada sangat dekat dengannya, bersalaman,  sudah merupakan hal yang sangat memuaskan, dan memberi energi kepada diri sendiri, serta bisa lebih memahami mengapa sang Presiden mau berdesakan di tengah kerumunan massa yang mengidolakannya.

 

Sekali lagi, salut buat Jokowi, dia begitu sederhana, yang mungkin bahkan pakaian yang dikenakannya tidak lebih mahal dari pakaian masyarakat yang berusaha merebut tangannya hanya sedekar untuk bersalaman sebagai bentuk ucapan terima kasih. Bagi saya, salaman dengannya, adalah ucapan terima kasih atas semua yang dilakukannya. Terima kasih Pak Jokowi.

 

Long Live Mr. President.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Releated

5G Dan Kegunaannya Di Masa Depan

  Jika sekarang anda merasa puas dengan kemampuan ponsel pintar anda yang dapat mengambil foto, dapat melakukan pencarian,  atau berselancar di internet, atau bahkan memainkan musik untuk anda, maka sebentar lagi anda akan merasa bahwa ponsel pintar tersebut sudah tidak bisa lagi memenuhi ekspektasi anda.   Teknologi memang menjanjikan kehidupan yang lebih baik, termasuk perkembangan […]

3 Hal Yang Dapat Kita Pelajari Dari Seorang Steve Job (Bagian III)

  Ketiga: Kematian   Ketika berusia 17 tahun, Steve Job pernah membaca sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa jika anda hidup setiap hari seperti hari terakhir anda, suatu ketika itu akan benar-benar terjadi.   Tulisan itu membuatnya terkesan, dan, sejak itu, untuk waktu selama 33 tahun, setiap pagi, Steve Job selalu melihat dirinya di depan cermin […]